Selasa, 12 Juni 2012

Tafakur Ujian Penuh Nikmat


Hidup ini adalah perjalanan yg sengaja dirahsiakan hikmah untuk manusia berusaha dan mencari maknanya. Bagi mereka yg berfikir, kehidupan tidak akan dipersiakan, sebaliknya dimanfaatkann sebaiknya demi kebahagiaan dunia serta akhirat.

Berfikir atau tafakur adalah senaman untuk mengaktifkan akal fikiran dikurniakan allah swt kepada manusia supaya apa yang dilihat serta ingin dilakukan tidak menyimpang daripada syariat.

Al - hasan pernah berkata:" bicara yg tidak mengandungi hikmah adalah tidak berguna. Diam tidak berfikir adalah kelalaian. Lihat yg tidak membuahkna pelajaran adalah permainan belaka." tafakur, berfikir atau merenung kejadian alam membuahkan pelajaran serta bukti kekuasaan allah swt sekali gus menjurus dan mengarah kepada tujuan yg berguna.

Firman allah swt yg bermaksud:" sesungguhnya kejadian langit dan bumi dan perselisihan malam dan siang itu ada beberapa bukti bagi orang yg mempunyai fikiran. Mereka mengingati allah sambil berdiri, duduk atau berbaring dan memikirkan kejadian langit dan bumi seraya berkata: " hai tuhan kami! Tidaklah engkau jadikan semua ini dengan sia2. Maha suci engkau! Kerana itu peliharalah kami daripada seksa api neraka". (surah ali-imran :190-191) pernah di riwayatkan, nabi saw menangis dan apabila ditanya mengapa, lalu dijawab rasulullah saw bahawa pada malam itu diturunkan ayat daripada surah ali-imran bermaksud:" celakalah bagi orang yg membaca ayat kejadian langit dan bumi dengan tidak memikirkannya".

Firman allah swt yg bermaksud:.."maka tidakkah mereka mahu melihat kepada unta bagaimana dijadikan? Dan melihat kepada langit bagaimana ditinggikan? Dan melihat kepada gunung bagaimana ditegakkan? Dan melihat kepada bumi bagaimana dihamparkan? Maka ingatkanlah, kerana engkau itu hanya seorang pengingat". (surah al-ghasyiah: 17-21) kekuasaan allah swt terukir dan terlukis pada alam. Rahmat dan kasih sayang-nya ada pada setiap detik kehidupan. Demikian sebahagian bukti kekuasaan allah swt. Betapa indah dan sempurnanya setiap ciptaan itu. Al-quran banyak menyuntik dan mendorong manusia berfikir kerana dengan itu akal tidak dibekukan oleh rutin dan kesibukan, malah memantapkan iman serta menjana kesempurnaan.

Bagaimana pun, berfikir biar pada batas dibenarkan atau yg sanggup dijangkau akal bukan seperti diingatkan rasulullah saw dalam sabda bermaksud:" berfikirlah pada tanda kekuasaan allah, dan jangan kamu berfikir mengenai zat allah kerana kamu tidak akan dapat mengukur batasnya".

Suatu hari nabi saw menghampiri kaumnya yg sedang bertafakur. Nabi saw bertanya:" mengapa kamu diam saja? Mereka menjawab:" kami sedang bertafakur mengenai makhluk allah. Nabi berkata; jika demikian, lakukanlah. Fikirkan mengenai makhluk allah dan jangan fikirkan mengenai allah".

Dalam al-quran , allah berfirman yg bermaksud:"dan di antara keterangan itu, diciptakannya kamu daripada tanah kemudian itu lihatlah, kamu menjadi manusia yg bertebaran". (surah al-rum: 20) demikian bijaksana allah swt yg maha pencipta mengatur semua itu untuk manusia. Namun, berapa ramai manusia berfikir mengenai penciptaan itu. Bulan dan matahari boleh berpadu walau tidak bersatu; begitu juga siang dan malam saling bertukar tidak pernah bercakaran.

Bintang berkelipan indah tidak pernah membantah. Malah semua itu tidak pernah bertelagah apa lagi menderhaka meminta kedudukan dan kuasa. Tetapi manusia yg bertebaran berterabur dengan perbalahan dan permusuhan. Tafakur itu cermin kaca yg memperlihatkan padamu kebaikan dan keburukan mu". Justeru, pegembaraan dalam tafakur bukan sekadar memperlihatkan kebaikan dan keburukan tetapi melahirkan kenikmatan serta ketenangan, menemukan hikmah dan makrifah, mengarah pemantapan iman, pembersihan jiwa, memperbanyak amal soleh.

Dalam perjalanan panjang kisah hidup seseorang, pasti akan dipenuhi ujian, baik itu menyenangkan maupun yang kurang menyenangakan. Hidup adalah peralihan dari satu ujian ke ujian berikutnya.
Kesabaran kita diuji di setiap adegan kehidupan. Masalahnya bukan bagaimana ujian yang menimpa kita, tetapi bagaimana kita menghadapinya. Bila ada seseorang yang mengecewakan, mengkhianati, berbuat tidak baik, berkata kasar, pasti akan menyakitkan kita.
Menangislah bila itu melegakanmu sesaat…
Namun selanjutnya bertafakurlah. Kita perlu bertafakur mengapa orang lain sampai menyakiti kita, mengapa suatu musibah menimpa kita.. Apa kira-kira hikmah kejadian tersebut untuk kita. Bila ada seseorang yang menipu kita, kita bisa menjadi sangat membencinya hingga lupa bahwa dia pernah baik.
Padahal…
tafakuri lagi, bagaimana kita menipu Allah dengan amal kita, seberapa banyak kata yang tidak sesuai dengan hati, berapa banyak amal yang tidak ikhlas, berapa kali kita bermaksiat setelah kita bertaubat…
Ingat-ingatlah berapa jumlah orang yang mengkhianati atau menyakiti kita dibandingkan jumlah teman dan saudara yang menyayangi kita..
Bila kita kehilangan harta kita, atau mungkin kehilangan pekerjaan, hingga kita berputus asa dan membenci orang-orang yang mengambil harta kita….
Padahal…
tafakuri lagi, berapa banyak rezeki dari Allah dibandingkan yang diambil oleh orang lain itu, Bagaimana bila rezeki indra kita dapat melihat dan mendengar dengan baik sepanjang hidup hingga hari, dibandingkan harta yang hilang itu. Tafakuri bila kita justru jauh dari Allah karena pekerjaan kita, sholat menjadi tidak tepat waktu karena takut atasan, sholat sulit khusyuk, jumlah bacaan Quran kita berkurang karena kelelahan, jumlah rokaat sholat malam berkurang karena ngantuk..
Tafakuri bila selama ini harta kita atau sedikit kelebihan rezeki kita menjadikan kita sombong, ujub dan takabur, ada selintas perasaan meremehkan orang lain.. Tafakuri bila wajah yang tampan memandang hina orang yang dikaruniai wajah berbeda dengannya, bila dari wajah yang cantik justru dalam hati merendahkan orang yang tidak cantik.
Apakah ketampanan itu yang dinilai Allah atau ketakwaan? Bertafakur dan menghitung berapa banyak dari harta tersebut yang kita belanjakan untuk Allah, berapa banyak yang kita infakkan dibanding yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan atau bahkan hanya keinginan duniawi.. Salahkah bila Allah ingin memintanya lagi?
Tafakuri lagi bahwa justru disaat kita kehilangan harta, disakiti orang, kita menjadi lebih nikmat beribadah. Hati diberi nikmat untuk merasakan tawakal yang sebenar-benarnya. Tafakuri lagi bahwa kita menjadi tahu siapa kawan-kawan sejati kita. Tafakuri lagi teman
Tafakuri bahwa mereka yang menyakiti kita ada dalam kekuasaan Allah, rezeki kita ada dalam kekuasaan Allah. Dan semua yang menimpa kita adalah seizin Allah…
Mudah bagi Allah menjadikan sesuatu dan mengubahnya kembali
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku".(QS. Al Fajr-15-16)
Bukankah disaat kita terjatuh, kehilangan dan mendapat musibah kita justru mendapat nikmat kedekatan dengan Allah yang Maha Memberi ketenangan, lebih dekat pada yang Memberi rezeki. Inikah yang lebih baik atau saat-saat dunia justru terasa sempit padahal harta dan kekuasaan ada ditangan? Saat semua orang dengan topengnya masing-masing berlaku baik pada kita atau saat Allah tunjukan siapa yang hatinya benar-benar tulus pada kita?
Mengapa kita hanya bergembira dalam, nikmat yang penuh ujian, tetapi sulit merasakan dan mensyukuri ujian yang penuh nikmat? Tafakuri dengan hati yang terdalam….
Bahwa yang dinilai pada diri kita di hadapan Allah adalah: bagaimana sikap kita pada mereka, bukan sikap dia atau mereka pada kita. Bagaimana keridhaan kita pada takdir Allah, hingga akhirnya Allah meridhai doa kita. Bagaimana bukti kesabaran dan kecintaan kita padanya.
Seberapapun ujian dari Allah, sungguh lebih banyak nikmat dari Allah..
Maka nikmat dari Tuhanmu manakah yang dapat kamu dustakan…..
Berilah waktu untuk hatimu menafakuri kehidupan..
Ya Rabb, bukalah hati-hati kami untuk dapat mengetahui hikmah dibalik setiap kejadian kehidupan ini..amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar