Selasa, 12 Juni 2012

Kepada Engkau yang Sedang Gelisah


Wahai hati yang sedang gelisah, apakah yang sedang kau gelisahkan?
Bila engkau belum tahu pasti apa yang menggelisahkan mu, bagaimana mungkin engkau bisa merasa gelisah?
Sebetulnya, apakah yang sedang kau gelisahkan? Ketahuilah bahwa penderitaan yang paling menyiksa mu, adalah penderitaan yang tidak pernah datang, tetapi yang kau ijinkan tumbuh dalam kekhawatiran- kekhawatiran mu.
Bila kekurangan yang kau rasakan, mengalahkan nilai dari keberuntungan yang telah ada pada mu, maka kegelisahan itu adalah candu bagi pikiran mu.
Kegelisahan yang mencandui mu itu berawal dari serat-serat sarang laba-laba dalam angan-angan mu, yang kemudian kau ijinkan menguat, menajam, dan mengiris permukaan hati mu yang peka.
Kegelisahan mu akan memotong dan melubangi hati mu, yang kemudian mengalirkankecerdasan dan ketahanan hati mu ke parit-parit penyia-nyiaan sari kehidupan. Maka selamatkanlah kecerdasan mu. Lindungilah kecemerlangan hati dan pikiran mu dan menangkanlah sari-sari kehidupan dalam diri mu. Karena sebetulnya, bila engkau mengerti kegelisahan adalah mabuknya orang yang sedang berada di depan penawaran-penawaran besar bagi kemungkinan- kemungkinan yang bisa ia capai sebagai pribadi yang mandiri.
Siapa kah di antara mu yang tidak akan tegang dan gelisah menantikan terbukanya tabir penutup hadiah besar bagi mu, untuk sikap, pikiran, dan tindakan mu yang mulia?
Bila yang kau nantikan adalah hadiah bagi pemuliaan diri mu, maka itu sama sekali bukanlah kegelisahan yang mengerdilkan, tetapi tarian kegembiraan hati mu.
Bila engkau belum memuliakan diri mu sendiri, maka kegelisahan mu adalah ronta dari keinginan hati mu untuk membayar penundaan dan pengabaian dari yang seharusnya sudah kau lakukan.
Engkau adalah jiwa yang dilahirkan mulia, maka semua kegelisahan mu adalah upaya hati mu untuk mengembalikan kemuliaan yang telah menjadi bakat kelahiran mu.
Maka bertindaklah. Janganlah engkau membatasi kebaikan yang akan kau lakukan hanya karena kemungkinan kegagalan, karena dengannya kau seperti berupaya membatalkan sifat Tuhan mu Yang Maha Melindungi, bagi kerugian mu sendiri. Itu sebabnya kau diperintahkan untuk membaca semua tanda, baik tanda yang akan memuliakan mu, yang akan menggagalkan mu, dan tanda bagi mu untuk mencoba lagi dengan lebih berpikir.
Engkau hanya boleh membatasi yang akan kau lakukan bila ia belum jujur, tidak adil, dan tidak memuliakan. Janganlah jadikan kemungkinan kecewa mu sebagai penghambat kerja mu. Ketahuilah bahwa kegelisahan dalam penundaan karena rasa takut akan kekecewaan  adalah perasaan yang lebih buruk daripada kekecewaan yang sebenarnya. Kegelisahan mu lebih menyiksa daripada kekecewaan mu.
Alam menciptakan mu kuat, ... Kuat sekali, tetapi alam tidak menciptakan mu cukup kuat untuk secara sekaligus menggembalakan penyesalan-penyesal an masa lalu mu, menyelesaikan tugas-tugas mu hari ini, dan membesarkan kekhawatiran- kekhawatiran mu di masa depan.
Itu sebabnya alam memberi mu kecerdasan untuk mendahulukan yang seharusnya kau dahulukan, dan meninggalkan yang seharusnya kau tinggalkan.
Hanya dengannya engkau akan disebut bijak, karena kebijakan adalah kecerdasandalam mengutamakan yang baik. Engkau berhak untuk bergembira. Engkau berwenang untuk merajut kegembiraan mu menjadi permadani kebahagiaan mu.
Janganlah kau gunakan kegelisahan yang maya itu untuk menggantikan hak nyata mu untuk berbahagia. Janganlah engkau membatalkan yang mungkin bagi mu dengan kegemaran mu mendahulukan kekhawatiran tentang yang hanya akan terjadi bila kau menghindari kebijakan.
Janganlah engkau bertahan berbaring di dalam bayangan dan mengeluhkan kurangnya cahaya di atas kepala mu. Bangunlah, dan melangkahlah ke luar dan temuilah cahaya dari pengertian-pengerti an baik yang telah mencerahkan saudara-saudara mu bahkan jauh sebelum kelahiran mu.
Majulah dan perbaikilah sudut pandang mu, agar lebih mungkin bagi mu untuk melihat masa depan yang lebih cerah. Berdamailah dengan keadaan mu, karena apa pun keadaan mu sekarang adalah keadaan dari mana engkau akan mencapai semua kecemerlangan mu.
Engkau akan membatalkan perjalanan mu mendaki tempat-tempat yang naik, bila engkau menolak menggunakan tanah yang rendah sebagai pijakan awal mu. Pencerahan adalah penerimaan yang ikhlas tentang yang benar.
Bila engkau tidak menemukan jalan keluar dalam kegelisahan mu, maka berpalinglah engkau kepada pengertian yang benar; karena pencerahan mu adalah penerimaan mu yang ikhlas tentang yang benar. Dan bila engkau telah ikhlas dengan yang benar, engkau akan mampu mendengar keheningan dalam kebisingan, danengkau akan melihat sinar dalam kegelapan.
Bila cinta mu kepada kemuliaan membuat mu bimbang dan bertanya apakah engkau akan ditemukan, dan apakah engkau akan dicari, dengarkanlah ini. Engkau yang meninggikan akan ditinggikan, engkau yang membesarkan akan dibesarkan.
Maka bila engkau menemukan bagi saudara mu yang belum menemukan, engkau akan ditemukan; bila engkau mencarikan bagi saudara mu yang sulit mencari, engkau akan dicari.
Bila Tuhan mu adalah keyakinan mu, maka Tuhan mu adalah dasar dari semua keyakinan mu. Ini aku katakan kepada mu agar engkau mengingat bahwa keraguan mu tidak boleh mendekati pelemahan keyakinan mu kepada Beliau.
Demikian besar kah kesusahan mu sehingga engkau mengecilkan nilai Tuhan mu bagi mu?
Beliau, Tuhan mu Yang Maha Pengasih, menunggu mu agar engkau datang bermanja-manja kepada-Nya meminta maaf karena keraguan mu, mengembalikan kesadaran mu kedalam kasih sayang Beliau.
Beliau ingin mendengar mu berjanji lagi dengan meminjam kesungguhan dari janji mu yang terakhir, bahwa engkau tidak akan lupa lagi, bahwa apa pun yang terjadi adalah untuk kebaikan mu.
Mintalah pengertian Beliau agar Beliau bersabar dan tetap mencintai mu dengan naik dan turun hati mu, karena engkau sedang belajar untuk selalu memperbarui iman mu. Katakanlah bahwa engkau telah mengerti bahwa semua upaya dan hasil mu tidak penting bila dalam pencapaiannya engkau menjauh dari-Nya.
Berjanjilah kepada Tuhan mu, bahwa dalam keraguan mu yang akan datang, engkau akan menjaga diri mu bermanja-manja dekat dengan-Nya; karena engkau tahu bahwa bila Beliau berkenan tidak ada yang tidak akan Beliau berikan kepada mu, meskipun apa pun,  karena engkau adalah kekasih Tuhan.
Bila Beliau berkenan. Seberapa jauh pun perjalanan mu, engkau akan sampai bila engkau dekat dengan-Nya. Seberapa sulit pun pencarian mu, engkau akan menemukan bila engkau mencari.
Seberapa jauh pun engkau hilang, engkau akan dicari dan ditemukan bila engkau mencarikan jalan bagi saudara mu yang kehilangan jalan. Maka bila kegelisahan datang lagi kepada mu, sambutlah ia dengan penghormatan bagai kepada tamu yang membutuhkan pengertian baik.
Sesungguhnya, kegelisahan mu hanyalah kekuatan mu yang sedang kebingungan. Maka, damaikanlah diri mu. Pulihkanlah jiwa mu kepada keindahan asli mu. Keindahan jiwa mu adalah sumber dari semua kekuatan mu.

Tafakur Ujian Penuh Nikmat


Hidup ini adalah perjalanan yg sengaja dirahsiakan hikmah untuk manusia berusaha dan mencari maknanya. Bagi mereka yg berfikir, kehidupan tidak akan dipersiakan, sebaliknya dimanfaatkann sebaiknya demi kebahagiaan dunia serta akhirat.

Berfikir atau tafakur adalah senaman untuk mengaktifkan akal fikiran dikurniakan allah swt kepada manusia supaya apa yang dilihat serta ingin dilakukan tidak menyimpang daripada syariat.

Al - hasan pernah berkata:" bicara yg tidak mengandungi hikmah adalah tidak berguna. Diam tidak berfikir adalah kelalaian. Lihat yg tidak membuahkna pelajaran adalah permainan belaka." tafakur, berfikir atau merenung kejadian alam membuahkan pelajaran serta bukti kekuasaan allah swt sekali gus menjurus dan mengarah kepada tujuan yg berguna.

Firman allah swt yg bermaksud:" sesungguhnya kejadian langit dan bumi dan perselisihan malam dan siang itu ada beberapa bukti bagi orang yg mempunyai fikiran. Mereka mengingati allah sambil berdiri, duduk atau berbaring dan memikirkan kejadian langit dan bumi seraya berkata: " hai tuhan kami! Tidaklah engkau jadikan semua ini dengan sia2. Maha suci engkau! Kerana itu peliharalah kami daripada seksa api neraka". (surah ali-imran :190-191) pernah di riwayatkan, nabi saw menangis dan apabila ditanya mengapa, lalu dijawab rasulullah saw bahawa pada malam itu diturunkan ayat daripada surah ali-imran bermaksud:" celakalah bagi orang yg membaca ayat kejadian langit dan bumi dengan tidak memikirkannya".

Firman allah swt yg bermaksud:.."maka tidakkah mereka mahu melihat kepada unta bagaimana dijadikan? Dan melihat kepada langit bagaimana ditinggikan? Dan melihat kepada gunung bagaimana ditegakkan? Dan melihat kepada bumi bagaimana dihamparkan? Maka ingatkanlah, kerana engkau itu hanya seorang pengingat". (surah al-ghasyiah: 17-21) kekuasaan allah swt terukir dan terlukis pada alam. Rahmat dan kasih sayang-nya ada pada setiap detik kehidupan. Demikian sebahagian bukti kekuasaan allah swt. Betapa indah dan sempurnanya setiap ciptaan itu. Al-quran banyak menyuntik dan mendorong manusia berfikir kerana dengan itu akal tidak dibekukan oleh rutin dan kesibukan, malah memantapkan iman serta menjana kesempurnaan.

Bagaimana pun, berfikir biar pada batas dibenarkan atau yg sanggup dijangkau akal bukan seperti diingatkan rasulullah saw dalam sabda bermaksud:" berfikirlah pada tanda kekuasaan allah, dan jangan kamu berfikir mengenai zat allah kerana kamu tidak akan dapat mengukur batasnya".

Suatu hari nabi saw menghampiri kaumnya yg sedang bertafakur. Nabi saw bertanya:" mengapa kamu diam saja? Mereka menjawab:" kami sedang bertafakur mengenai makhluk allah. Nabi berkata; jika demikian, lakukanlah. Fikirkan mengenai makhluk allah dan jangan fikirkan mengenai allah".

Dalam al-quran , allah berfirman yg bermaksud:"dan di antara keterangan itu, diciptakannya kamu daripada tanah kemudian itu lihatlah, kamu menjadi manusia yg bertebaran". (surah al-rum: 20) demikian bijaksana allah swt yg maha pencipta mengatur semua itu untuk manusia. Namun, berapa ramai manusia berfikir mengenai penciptaan itu. Bulan dan matahari boleh berpadu walau tidak bersatu; begitu juga siang dan malam saling bertukar tidak pernah bercakaran.

Bintang berkelipan indah tidak pernah membantah. Malah semua itu tidak pernah bertelagah apa lagi menderhaka meminta kedudukan dan kuasa. Tetapi manusia yg bertebaran berterabur dengan perbalahan dan permusuhan. Tafakur itu cermin kaca yg memperlihatkan padamu kebaikan dan keburukan mu". Justeru, pegembaraan dalam tafakur bukan sekadar memperlihatkan kebaikan dan keburukan tetapi melahirkan kenikmatan serta ketenangan, menemukan hikmah dan makrifah, mengarah pemantapan iman, pembersihan jiwa, memperbanyak amal soleh.

Dalam perjalanan panjang kisah hidup seseorang, pasti akan dipenuhi ujian, baik itu menyenangkan maupun yang kurang menyenangakan. Hidup adalah peralihan dari satu ujian ke ujian berikutnya.
Kesabaran kita diuji di setiap adegan kehidupan. Masalahnya bukan bagaimana ujian yang menimpa kita, tetapi bagaimana kita menghadapinya. Bila ada seseorang yang mengecewakan, mengkhianati, berbuat tidak baik, berkata kasar, pasti akan menyakitkan kita.
Menangislah bila itu melegakanmu sesaat…
Namun selanjutnya bertafakurlah. Kita perlu bertafakur mengapa orang lain sampai menyakiti kita, mengapa suatu musibah menimpa kita.. Apa kira-kira hikmah kejadian tersebut untuk kita. Bila ada seseorang yang menipu kita, kita bisa menjadi sangat membencinya hingga lupa bahwa dia pernah baik.
Padahal…
tafakuri lagi, bagaimana kita menipu Allah dengan amal kita, seberapa banyak kata yang tidak sesuai dengan hati, berapa banyak amal yang tidak ikhlas, berapa kali kita bermaksiat setelah kita bertaubat…
Ingat-ingatlah berapa jumlah orang yang mengkhianati atau menyakiti kita dibandingkan jumlah teman dan saudara yang menyayangi kita..
Bila kita kehilangan harta kita, atau mungkin kehilangan pekerjaan, hingga kita berputus asa dan membenci orang-orang yang mengambil harta kita….
Padahal…
tafakuri lagi, berapa banyak rezeki dari Allah dibandingkan yang diambil oleh orang lain itu, Bagaimana bila rezeki indra kita dapat melihat dan mendengar dengan baik sepanjang hidup hingga hari, dibandingkan harta yang hilang itu. Tafakuri bila kita justru jauh dari Allah karena pekerjaan kita, sholat menjadi tidak tepat waktu karena takut atasan, sholat sulit khusyuk, jumlah bacaan Quran kita berkurang karena kelelahan, jumlah rokaat sholat malam berkurang karena ngantuk..
Tafakuri bila selama ini harta kita atau sedikit kelebihan rezeki kita menjadikan kita sombong, ujub dan takabur, ada selintas perasaan meremehkan orang lain.. Tafakuri bila wajah yang tampan memandang hina orang yang dikaruniai wajah berbeda dengannya, bila dari wajah yang cantik justru dalam hati merendahkan orang yang tidak cantik.
Apakah ketampanan itu yang dinilai Allah atau ketakwaan? Bertafakur dan menghitung berapa banyak dari harta tersebut yang kita belanjakan untuk Allah, berapa banyak yang kita infakkan dibanding yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan atau bahkan hanya keinginan duniawi.. Salahkah bila Allah ingin memintanya lagi?
Tafakuri lagi bahwa justru disaat kita kehilangan harta, disakiti orang, kita menjadi lebih nikmat beribadah. Hati diberi nikmat untuk merasakan tawakal yang sebenar-benarnya. Tafakuri lagi bahwa kita menjadi tahu siapa kawan-kawan sejati kita. Tafakuri lagi teman
Tafakuri bahwa mereka yang menyakiti kita ada dalam kekuasaan Allah, rezeki kita ada dalam kekuasaan Allah. Dan semua yang menimpa kita adalah seizin Allah…
Mudah bagi Allah menjadikan sesuatu dan mengubahnya kembali
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku".(QS. Al Fajr-15-16)
Bukankah disaat kita terjatuh, kehilangan dan mendapat musibah kita justru mendapat nikmat kedekatan dengan Allah yang Maha Memberi ketenangan, lebih dekat pada yang Memberi rezeki. Inikah yang lebih baik atau saat-saat dunia justru terasa sempit padahal harta dan kekuasaan ada ditangan? Saat semua orang dengan topengnya masing-masing berlaku baik pada kita atau saat Allah tunjukan siapa yang hatinya benar-benar tulus pada kita?
Mengapa kita hanya bergembira dalam, nikmat yang penuh ujian, tetapi sulit merasakan dan mensyukuri ujian yang penuh nikmat? Tafakuri dengan hati yang terdalam….
Bahwa yang dinilai pada diri kita di hadapan Allah adalah: bagaimana sikap kita pada mereka, bukan sikap dia atau mereka pada kita. Bagaimana keridhaan kita pada takdir Allah, hingga akhirnya Allah meridhai doa kita. Bagaimana bukti kesabaran dan kecintaan kita padanya.
Seberapapun ujian dari Allah, sungguh lebih banyak nikmat dari Allah..
Maka nikmat dari Tuhanmu manakah yang dapat kamu dustakan…..
Berilah waktu untuk hatimu menafakuri kehidupan..
Ya Rabb, bukalah hati-hati kami untuk dapat mengetahui hikmah dibalik setiap kejadian kehidupan ini..amiin.

Senin, 11 Juni 2012

Hari Berlalu Tanpa Arti


“Hiduplah semaumu, kamu pasti akan mati. Cintailah siapa saja yang kamu suka, kamu sendiri akan menjauhinya. Berbuatlah sekendakmu, pasti mendapatkan balasannya dan kamu sendiri yang bertanggung jawab”. (Hr. Thabrani)
Sahabat, telah panjang perjalanan yang kita lalui, tak terhitung berapa tempat telah kita singgahi, tak tergambar berapa jumlah hari-hari yang telah terlewati dan tak dapat kita ketahui berapa desah napas yang keluar dari mulut kita setiap hari. Sungguh, kalaulah bukan karena anugerah dan limpahan kasih sayang Allah, tak mungkin kita mampu melawati semua keindahan itu. Tetapi disekian begitu banyaknya orang yang bersyukur, tidak kalah banyaknya orang yang kufur. Disekian banyaknya orang yang taat, tidak kalah hebatnya orang-orang yang sesat dan disekian banyaknya orang-orang yang merambah kejalan taubat, masih terlihat juga orang-orang yang tetap dalam maksiat.
Telah berlalu begitu banyak peristiwa yang kita saksikan. Seperti; hancurnya setiap kepongahan, leburnya tirani kesombongan bahkan peristiwa kematian yang mengharukan. Namun semua kejadian itu tak jua membuat kita bergerak untuk merenungkannya, sepertinya itu hanya rangkaian tragedi hidup yang biasa; seperti drama panggung yang dipertontonkan. Renungkanlah nasehat Imam Hasan Basyri: “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu hanyalah merupakan kumpulan dari hari-hari, setiap kali hari berlalu akan berlalu pula bagian umurmu”.
Sahabat, para ahli bijak mengungkapkan; manakala manusia dibangkitkan dari kubur dan dipaparkan apa yang telah di perbuatnya untuk diberikan balasan, ahli surga akan dimasukan ke dalam surga dan ahli neraka akan di masukan kedalam neraka. Saat itulah mereka yang di masukan kedalam neraka berharap kalau-kalau mereka dikembalikan lagi ke dunia untuk berbuat baik, tetapi semua itu hanyalah kesia-siaan. Karena masa berbuat kebaikan telah habis dan saat pembalasan telah datang. Sejalan dengan ungkapan Allah lewat firman-Nya:
“Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka jahannam; mereka tidak di binasakan sehingga mereka mati dan tidak )pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Rab kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan ?. Maka rasakanlah (azab kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun”. (Al-Fathir:36-37).
Apa yang dapat kita ambil dari sumber yang maha benar ini. Sebuah peringatan dari yang maha benar, yaitu penyesalan dipenghujung hari, tetapi tak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri, dan kita tak lagi mungkin dapat kembali. Allah telah culup memberikan kesempat kepada setiap manusia yang memungkinkannya melaksanakan apa yang telah diwajibkan-Nya. Maka akibat dari kelalaian itu, hanya penyesalan yang kita dapatkan, hanya kesengsaraan yang kita rasakan dan kesakitan yang selalu kita dapatkan. Bertaubalah sebelum azal datang menjelang.
Sahabat, dalam pertukaran malam dan siang, ada pelajaran yang seharusnya kita pikirkan, ada kebaikan yang mestinya selalu bertambah dalam keseharian, dan ada kesadaran yang sejatinya semakin kita perlihatkan. Sebab setiap bergulirnya hari, tetapi tak ada perbaikan pada diri, berapa lamapun kita hidup semuanya tidak akan mempunyai arti. Para ulama menganggap, suatu pengingkaran terhadap nikmat dan pendurhakaan terhadap zaman, apabila hari berlalu tanpa dapat dimanfaatkan untuk meraih kebaikan. Seorang penyair berkata: “Bila hari berlalu dihadapanku,sedang aku tidak dapat mengambil petunjuk dan ilmu darinya, maka ia bukanlah umurku”

Semoga Allah menjadikan kebaikan pada hari-hari yang terlewati, menghadirkan kemudahan bagi jiwa untuk selalu mensucikan diri, mengampuni setiap kelalaian yang kerap menyelimuti hati. Abu Bakr Ash-Shiddiq ra selalu berdoa; ”Ya Allah, janganlah Engkau membiarkan kami dalam kesengsaraan, dan janganlah engkau menyiksa kami karena kelalaian, serta janganlah Engkau menjadikan kami termasuk golongan orang-orang yang lalai”.

Melepas Belenggu “NANTI”


“Pergunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara yang lain; kehidupanmu sebelum datang kematianmu, kesehatanmu sebelum datang penyaitmu, kekosonganmu sebelum datang kesibukanmu, masa mudamu sebelum datang masa tuamu dan kekayaanmu seblum datang kemiskinanmu.(Rh. Hakim)
Sahabat, ‘Nanti’ adalah sebuah kata yang berarti ‘penundaan’. Kalimat ini kerap kita ungkapkan dalam setiap aktivitas yang belum terselesaikan. Boleh jadi, kalimat ini tak terlalu salah kita ungkapkan setelah sebelumnya berusaha keras untuk menyelesaikan pekerjaan. Tetapijika berkaitan dengan sebuah kewajiban yang harus segera kita lakukan, maka kalimat ‘‘nanti’ ini akan berdampak kepada sikapmenganggap remehpekerjaan. Ketahuilah; diantara kewajiban kita terhadap hari-hari yang terlewati adalah mengisinya dengan ilmu dan amal sholeh, karena hidup kita bukanlah besok atau juga kemaren, tetapi hidup kita adalah hari ini. Karena ‘kemaren’ adalah waktu yang tak akan kembali dan ‘besok’ adalah waktu yang tak pernah kita ketahui.
Penting untuk kita renungkan, sebuah tulisan seorang pengembara; ia adalah Muhammad bin Samrah. Kepada sahabatnya ia menulis surat; “Hai saudaraku…!, jauhilah dirimu dari menunda pekerjaan.
Jagalah ! Jangan sampai hal itu bersarang di dalam hatimu. Menunda pekerjaanberarti bersahabat dengan kerusakan, karena itulah adalah tempatnya kemalasan. Menunda pekerjan berarti memutuskan cita-cita  dan penyia-nyiaan terhadap umur. Jika kamu berbuat demikian, itu akan menjadi kebiasaanmu.
Jauhilah ragamu dari kebosanan yang telah berpaling darimu, Karena itu tidak mendatangkan manfaat bagi jiwamu. Hai Saudaraku…!, kamu akan selalu gembira, bila pekerjaanmu telah kamu lakukan atau kamu akan menyesal bila kamu melalaikannya. Saudaramu Sahabat,siapakah yang dapat menjamin seseorang dapat hidup hingga esok hari. Secanggih apapun ilmu yang kita dapati, tak akan mampu menahan kematian yang menghampiri. Sebanyak apapun harta yang kita miliki, tak akan mampu membeli sebuah nyawa yangsudah diakhiri dan sehebat apapun kekuasaan yang telah kita raih, tak akan bisa mempengaruhi ketentuan ilahi. Karenanya, merupakan satu keberuntungan, bila kita segera mengerjakan kebaikan dan menunaikan kewajiban. Dan merupakan suatu kelemahan atau kerugian, jika kita menundanyasehingga kesempatan berakhir.
Oleh karenanya sahabat, lepaslah belenggu ‘nanti’ dalam diri, sebab keberadaannya hanya akan mendatangkan penyesalan panjang dalam hati.Satu waktu; Umar bin Abdul Aziz dalam kelelahan karena begitu banyaknya pekerjaan, ia mengungkapkan; “Pekerjaanku satu hari saja telah membuatku menjadi letih, bagaimana kalau pekerjaan dua hari dikumpulkan menjadi satu…?.
Sahabat, kita merasakan penyesalan yang teramat dalam bila kita secara teledor menunda-nunda pekerjan yang seharusnya terselesaikan. Karena dengan membiasakannya, kita akan menghadapi beban berat karena bertambahnya pekerjaan. Terlebih ketika yang kita tunda adalah kewajiban melaksanakan taat danmenunda untuk bertaubat dari perilaku maksiat. Semakin kita biarkan hatiberselimut maksiat, maka akan semakin sulit membersihkannya karena sudah terlanjur berkarat. Karenanya, segeralah bertaubat sebelum terlambat. Jangan biarkan hati tertambat pada prilaku maksiat, karena hidup tak akan terasa nikmat bila tak ada taat, di dunia tak mendapat rahmat dan tak mendapattempat yang layak diakhirat . Ahmad bin Athaillah menasehati: “ Penundaanmu akan semua amal (kebaikan) karena menanti adanya waktu senggang termasuk dari kebodohan-kebodohan jiwa”.
“YA Allah, jadikanlah sebaik-baik dari umurku adalah akhirnya, sebaik-baik dari pekerjaanku adalah penutupannya dan sebaik-sebaiknya hari-hariku adalah hari aku menghadap Engkau.”.

Menangislah


Menangislah! Ketika diri tidak ringan bergerak dalam berbuat taat.
Menangislah!

Ketika kenikmatan dunia senantiasa menghujani namun amal soleh tidak berbanding lurus dan meningkat dengan kenikmatan yang diterima. Dimanakah letak kurangnya kasih sayang Alloh SWT kepada kita? Kita senantiasa menuntut hak kita terhadap Alloh SWT, namun rasa syukur kita ketika mendapat nikmat-Nya tak pernah kita tunjukan dihadapan-Nya walau hanya sekedar ucapan “Alhamdulillah”.
Kita malah terlupa dan kadang lupa diri, bahwa apapun nikmat yang kita terima sesungguhnya berasal dari Alloh SWT. Terkadang, kebanyakan dari kita hanya ingat kepada-Nya sewaktu diri tertimpa musibah dan kesempitan dalam hidup. Padahal, dengan mengingat Alloh SWT disaat lapang dan kebahagiaan hidup menghampiri akan mendatangkan kecintaan Alloh SWT dan insya Alloh disaat kesusahan menghampiri kehidupan, Alloh SWT akan berbalik mengingat kita.
Menangislah!

Untuk mengharapkan datangnya pertolongan Alloh SWT terhadap diri kita, sehingga Dia mengaruniakan kekuatan dan pertolongan untuk memudahkan kita dalam rangka mendekat kepada-Nya.
Menangislah!

Untuk setiap dosa yang pernah kita rajut dalam kehidupan walau kita tak akan mampu menghitung betapa besarnya keingkaran diri melebihi ketaatan kita kepada-Nya.
Pernahkah kita menangis atas kurangnya bekal persiapan untuk akhirat kita? Tempat yang kekal dan tujuan puncak kehidupan yang bekalnya kita persiapkan melalui dunia ini.
Menangislah!

Sebagai tanda kelembutan dan hidupnya hati yang senantiasa siap untuk menerima nasehat dan kebenaran yang datang.
Semoga Alloh SWT senantiasa memberikan pertolongan-Nya dalam setiap hal-hal baik yang kita usahakan serta menjauhkan kita dari sifat sombong dan merasa diri bersih, karena tanpa pertolongan dari-Nya, tak seorangpun yang sanggup melakukan kebajikan di atas permukaan bumi ini.

Antara Ridha dan Pasrah


Ridha berasal dari kata radhiya-yardha yang berarti menerima suatu perkara dengan lapang dada tanpa merasa kecewa ataupun tertekan. Sedangkan menurut istilah, ridha berkaitan dengan perkara keimanan yang terbagi menjadi dua macam. Yaitu, ridha Allah kepada hamba-Nya dan ridha hamba kepada Allah (Al-Mausu'ah Al-Islamiyyah Al-'Ammah: 698). Ini sebagaimana diisyaratkan Allah dalam firman-Nya, ''Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.'' (QS 98: 8).
Ridha Allah kepada hamba-Nya adalah berupa tambahan kenikmatan, pahala, dan ditinggikan derajat kemuliaannya. Sedangkan ridha seorang hamba kepada Allah mempunyai arti menerima dengan sepenuh hati aturan dan ketetapan Allah. Menerima aturan Allah ialah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun menerima ketetapannya adalah dengan cara bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika ditimpa musibah.
Dari definisi ridha tersebut terkandung isyarat bahwa ridha bukan berarti menerima begitu saja segala hal yang menimpa kita tanpa ada usaha sedikit pun untuk mengubahnya. Ridha tidak sama dengan pasrah. Ketika sesuatu yang tidak diinginkan datang menimpa, kita dituntut untuk ridha. Dalam artian kita meyakini bahwa apa yang telah menimpa kita itu adalah takdir yang telah Allah tetapkan, namun kita tetap dituntut untuk berusaha. Allah berfirman, ''Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.'' (QS 13: 11).
Hal ini berarti ridha menuntut adanya usaha aktif. Berbeda dengan sikap pasrah yang menerima kenyataan begitu saja tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Walaupun di dalam ridha terdapat makna yang hampir sama dengan pasrah yaitu menerima dengan lapang dada suatu perkara, namun di sana dituntut adanya usaha untuk mencapai suatu target yang diinginkan atau mengubah kondisi yang ada sekiranya itu perkara yang pahit. Karena ridha terhadap aturan Allah seperti perintah mengeluarkan zakat, misalnya, bukan berarti hanya mengakui itu adalah aturan Allah melainkan disertai dengan usaha untuk menunaikannya.
Begitu juga ridha terhadap takdir Allah yang buruk seperti sakit adalah dengan berusaha mencari takdir Allah yang lain, yaitu berobat. Seperti yang dilakukan Khalifah Umar bin Khathab ketika ia lari mencari tempat berteduh dari hujan deras yang turun ketika itu. Ia ditanya, ''Mengapa engkau lari dari takdir Allah, wahai Umar?'' Umar menjawab, ''Saya lari dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain.''
Dengan demikian, tampaklah perbedaan antara makna ridha dan pasrah, yang kebanyakan orang belum mengetahuinya. Dan itu bisa mengakibatkan salah persepsi maupun aplikasi terhadap makna ayat- ayat yang memerintahkan untuk bersikap ridha terhadap segala yang Allah tetapkan. Dengan kata lain pasrah akan melahirkan sikap fatalisme. Sedangkan ridha justru mengajak orang untuk optimistis. Wallahu a'lam.